SAPAAN GEMBALA
Oleh: Pdt. Andy Markus
“Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!”
Mazmur 128:1 (TB)
Shalom…
Mazmur 128 menggambarkan sebuah keluarga yang diberkati. Berkat itu bukan pertama-tama diukur dari kekayaan, kenyamanan, atau kelimpahan materi, melainkan dari kehidupan yang dibangun di atas rasa takut akan Tuhan. Ketika Allah menjadi pusat rumah tangga, damai sejahtera akan mengalir dan setiap anggota keluarga mengalami pertumbuhan yang sehat, baik secara rohani maupun emosional.
Namun, kehidupan keluarga pada zaman ini menghadapi tantangan yang berbeda. Kesibukan, tekanan pekerjaan, tuntutan ekonomi, persoalan pendidikan anak, hingga derasnya arus teknologi sering kali membuat anggota keluarga kehilangan waktu untuk saling mendengarkan. Tidak sedikit keluarga yang hidup serumah, tetapi sebenarnya saling berjauhan secara emosional.
Dalam konteks inilah muncul istilah “Dopamine Cake”. Istilah ini menggambarkan bagaimana makanan atau minuman manis sering menjadi pilihan untuk memperoleh rasa nyaman setelah mengalami kelelahan, tekanan, atau gejolak emosi. Rasa manis dapat memberikan sensasi menyenangkan karena berkaitan dengan sistem penghargaan (reward) di dalam otak, sehingga seseorang merasa lebih tenang untuk sementara waktu.
Fenomena ini mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah menjalani pekerjaan yang melelahkan, seseorang memilih menikmati sepotong kue, cokelat, atau minuman manis untuk memperbaiki suasana hati. Demikian pula ketika seseorang sedang kecewa, marah, atau mengalami tekanan emosional, makanan manis sering menjadi pelarian yang dianggap mampu mengurangi beban yang dirasakan.
Pada sebagian perempuan, terutama saat mengalami perubahan hormonal dalam siklus menstruasi, keinginan mengonsumsi makanan manis juga dapat meningkat. Hal ini merupakan salah satu respons tubuh yang dikenal dalam berbagai penelitian, meskipun setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda.
Namun, renungan ini tidak sedang berbicara tentang makanan. “Dopamine Cake” dipakai sebagai gambaran bahwa manusia sering mencari solusi instan untuk mengatasi kekosongan hati. Persoalan yang lebih dalam tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan sesuatu yang memberikan kenyamanan sesaat.
Di sinilah Firman Tuhan mengingatkan bahwa keluarga tidak dibangun hanya dengan memenuhi kebutuhan fisik atau memberikan hiburan sementara. Rumah tangga yang diberkati lahir ketika setiap anggota keluarga belajar kembali kepada Tuhan sebagai sumber damai sejahtera yang sejati.
Anak-anak tidak hanya membutuhkan hadiah, tetapi perhatian. Pasangan hidup tidak hanya membutuhkan fasilitas, tetapi kasih yang diwujudkan dalam komunikasi dan pengertian. Orang tua tidak hanya memerlukan penghormatan, tetapi juga kehadiran anak-anak yang mau mendengar dan berbagi kehidupan bersama.
Kenyamanan sesaat memang dapat membantu meredakan emosi, tetapi tidak mampu menggantikan kasih, doa, dan persekutuan yang menjadi fondasi sebuah keluarga. Hanya Tuhan yang sanggup memulihkan hati yang lelah, menguatkan jiwa yang terluka, serta membangun kembali hubungan yang mulai retak.
Karena itu, marilah setiap keluarga kembali menjadikan Tuhan sebagai pusat kehidupan rumah tangga. Luangkan waktu untuk berdoa bersama, membaca Firman Tuhan, saling mengampuni, dan membangun komunikasi yang penuh kasih. Ketika Tuhan menjadi “sumber sukacita” dalam keluarga, kita tidak lagi bergantung pada penghiburan yang sementara, melainkan menikmati damai sejahtera yang berasal dari hadirat-Nya.
Renungan
Keluarga yang diberkati bukanlah keluarga yang tidak pernah menghadapi masalah, tetapi keluarga yang memilih berjalan bersama Tuhan di tengah setiap pergumulan. Sukacita sejati tidak berasal dari sesuatu yang manis di lidah, melainkan dari hati yang dipenuhi kasih Kristus.
“Jangan hanya mencari kenyamanan yang sementara, tetapi carilah Tuhan yang memberikan sukacita yang kekal. Ketika Kristus menjadi pusat keluarga, rumah akan dipenuhi damai, kasih, dan berkat yang tidak dapat diberikan oleh dunia.”
Tuhan Yesus memberkati.


