KETIKA TUHAN BERBICARA, APAKAH KITA MASIH MAU MENDENGAR?
Membangun Hati yang Tunduk di Tengah Kebisingan Dunia
“Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu.” (Ibrani 3:15)
Salah satu tragedi terbesar dalam kehidupan orang percaya bukanlah ketika Tuhan berhenti berbicara, melainkan ketika manusia tidak lagi memiliki hati yang mau mendengar. Persoalannya bukan karena Allah menjadi diam, tetapi karena suara hati, ego, ambisi, ketakutan, bahkan kebisingan dunia telah menenggelamkan suara Sang Gembala Agung.
Sejak awal penciptaan, Allah adalah Pribadi yang berbicara. Dia memanggil Adam di taman Eden, berbicara kepada para nabi, menyatakan kehendak-Nya melalui firman, dan pada akhirnya menyatakan diri-Nya secara sempurna melalui Yesus Kristus, Sang Firman yang menjadi manusia (Yohanes 1:1,14). Artinya, Allah bukan Tuhan yang jauh dan membisu. Dia adalah Bapa yang terus menyatakan kehendak-Nya kepada umat yang mau mencari-Nya.
Namun, Alkitab juga menunjukkan bahwa hati manusia sering kali lebih menyukai pendapatnya sendiri daripada kehendak Allah. Raja Saul kehilangan kerajaannya bukan karena ia tidak mengetahui perintah Tuhan, tetapi karena ia merasa pendapatnya lebih masuk akal daripada firman Tuhan. Sebaliknya, Daud tetap disebut seorang yang berkenan di hati Allah bukan karena ia tidak pernah jatuh dalam dosa, melainkan karena ia memiliki hati yang mau ditegur, bertobat, dan kembali kepada Tuhan.
Inilah perbedaan antara hati yang keras dan hati yang lembut. Hati yang keras selalu mencari pembenaran. Hati yang lembut selalu mencari kebenaran.
Dalam kehidupan modern, banyak orang percaya mengukur kehendak Tuhan berdasarkan logika, tren, perasaan, atau keuntungan pribadi. Padahal, kehendak Allah tidak selalu sejalan dengan apa yang tampak paling mudah atau paling menguntungkan. Jalan Tuhan sering kali menuntut iman, kesabaran, dan ketaatan sebelum akhirnya memperlihatkan tujuan-Nya yang sempurna.
Teologi yang sehat mengajarkan bahwa Allah berbicara terutama melalui Firman-Nya yang telah diilhamkan dalam Kitab Suci. Roh Kudus bekerja menerangi hati orang percaya agar memahami, menaati, dan menghidupi firman tersebut. Karena itu, setiap kesan, pengalaman rohani, atau dorongan batin harus diuji dengan Alkitab. Allah tidak akan pernah membimbing seseorang untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan firman-Nya.
Mendengar suara Tuhan bukan sekadar menunggu pengalaman yang spektakuler. Lebih sering, Tuhan berbicara melalui saat teduh yang sederhana, pembacaan Alkitab yang konsisten, doa yang tulus, nasihat yang bijaksana, dan damai sejahtera yang diberikan Roh Kudus ketika kita berjalan dalam kebenaran.
Masalahnya, banyak orang lebih cepat mengambil keputusan daripada mencari wajah Tuhan. Kita meminta Tuhan memberkati keputusan yang sudah kita buat, bukan meminta Tuhan menunjukkan keputusan yang harus kita ambil. Akibatnya, kita sering menyalahkan keadaan, padahal sejak awal kita mengabaikan pimpinan-Nya.
Kerendahan hati adalah pintu menuju hikmat. Orang yang bertumbuh secara rohani bukanlah mereka yang merasa selalu benar, melainkan mereka yang selalu siap diajar, dikoreksi, dan diubahkan oleh Tuhan. Semakin dewasa iman seseorang, semakin besar kerinduannya untuk berkata, “Jadilah kehendak-Mu,” bukan, “Jadilah kehendakku.”
Marilah kita membangun kehidupan yang dipenuhi kepekaan terhadap suara Tuhan. Sisihkan waktu untuk berdoa, membaca firman setiap hari, dan mengizinkan Roh Kudus membentuk karakter kita. Sebab perubahan sejati tidak dimulai dari keadaan yang berubah, melainkan dari hati yang rela tunduk kepada kehendak Allah.
Ketika hati belajar mendengar, hidup akan belajar taat. Dan ketika hidup taat kepada Tuhan, kita akan mengalami pimpinan-Nya yang sempurna, sekalipun jalan yang harus ditempuh tidak selalu mudah.
“Percayalah kepada TUHAN dengan segenap hatimu dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.” (Amsal 3:5–6)
Kiranya setiap langkah hidup kita tidak lagi dipimpin oleh ego atau kebijaksanaan dunia, tetapi oleh suara Tuhan yang hidup melalui firman-Nya. Sebab hanya mereka yang mendengar dan melakukan kehendak Allah yang akan berdiri teguh sampai selama-lamanya.
Tuhan Yesus memberkati.
Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K.
(Romo Kefas)


