PusakaIlahi.com
“Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.”
(Matius 7:1)
Ada satu hal yang lebih berbahaya dari melakukan kesalahan—
merasa paling benar.
Karena orang yang salah masih bisa sadar,
tetapi orang yang merasa benar sering kali tidak merasa perlu berubah.
Dan ironisnya,
itu bisa terjadi pada orang yang rohani.
Orang yang rajin ibadah.
Orang yang hafal firman.
Orang yang aktif melayani.
Termasuk aku.
Aku pernah ada di fase itu.
Bukan hidup dalam dosa besar,
bukan jauh dari Tuhan—
justru aku merasa dekat.
Aku tahu mana yang benar.
Aku tahu mana yang salah.
Dan perlahan, tanpa sadar,
aku mulai menikmati posisi itu.
Aku jadi mudah menilai.
Cepat mengoreksi.
Cepat menyimpulkan.
Aku pikir aku sedang membela kebenaran.
Padahal,
aku sedang kehilangan kasih.
Aku tidak sadar,
kebenaran yang seharusnya menyelamatkan
di tanganku berubah menjadi alat untuk melukai.
Aku berbicara firman,
tapi nadaku menghakimi.
Aku menegur,
tapi tidak memulihkan.
Aku benar,
tapi tidak lagi mencerminkan Tuhan.
Dan di situlah Tuhan menegurku—
bukan soal apa yang aku katakan,
tetapi bagaimana hati di baliknya.
Aku diingatkan pada kearifan sederhana:
“Ajining diri saka lathi.”
Harga diri seseorang terlihat dari ucapannya.
Namun Tuhan membawaku lebih dalam:
bukan hanya dari lisan,
tetapi dari hati.
Karena apa yang keluar dari mulut
adalah cerminan dari isi hati.
Jika kata-kataku melukai,
mungkin hatiku belum sembuh.
Jika teguranku menjatuhkan,
mungkin kasihku belum utuh.
Yesus memberi teladan yang sangat jelas.
Ia tidak pernah kompromi terhadap dosa,
tetapi Ia juga tidak pernah kehilangan kasih terhadap orang berdosa.
Ia berkata benar,
tanpa membuat orang putus asa.
Ia menegur,
tanpa merendahkan.
Ia memulihkan,
tanpa mempermalukan.
Dan aku sadar,
aku sering melakukan kebalikannya.
Hari ini aku belajar satu hal yang tidak mudah:
kebenaran tanpa kasih bukanlah kebenaran Kristus.
Karena kebenaran Kristus selalu membawa pemulihan,
bukan penghancuran.
Maka sebelum kita menegur orang lain,
kita perlu bertanya:
Apakah aku ingin menolong,
atau hanya ingin terlihat benar?
Apakah aku ingin memulihkan,
atau diam-diam ingin menjatuhkan?
Karena tidak semua “kebenaran” yang kita ucapkan
lahir dari kasih.
Hari ini Tuhan mengingatkan:
Jika orang bertobat,
rangkul.
Jika orang jatuh,
tolong bangkit.
Jika orang belum berubah,
doakan.
Jika orang menolak,
serahkan kepada Tuhan.
Karena kita bukan hakim.
Kita hanyalah pembawa kasih.
Lebih baik terluka karena mengasihi,
daripada benar tetapi melukai.
Sebab pada akhirnya,
dunia tidak hanya butuh kebenaran,
tetapi butuh merasakan kasih Tuhan melalui hidup kita.
— Ev. Kefas Hervin Devananda, S.H., S.Th., M.Pd.K


