Kedaulatan Ekonomi Umat di Era Digital
Refleksi Teologis tentang Kebangkitan Bangsa dan Tanggung Jawab Gereja
Oleh: Kefas Hervin Devananda alias Romo Kefas
Jurnalis PEWARNA Indonesia | Penggiat Budaya | Aktivis 98
Di tengah perkembangan teknologi dan ekonomi global yang bergerak sangat cepat, gereja dan umat percaya sedang menghadapi sebuah tantangan besar: apakah umat hanya akan menjadi penonton dalam perubahan zaman, atau menjadi terang yang membawa dampak bagi kehidupan bangsa?
Hari ini dunia memasuki era digital. Perdagangan berpindah ke ruang virtual, komunikasi berlangsung tanpa batas, dan kekuatan ekonomi perlahan ditentukan oleh penguasaan teknologi, informasi, dan jaringan pasar global.
Namun di balik semua kemajuan itu, ada kenyataan yang tidak dapat diabaikan: masih banyak rakyat kecil, pelaku UMKM, petani, nelayan, komunitas gereja, pesantren, dan masyarakat akar rumput yang belum sepenuhnya menikmati keadilan ekonomi.
Karena itu, pembicaraan tentang kedaulatan ekonomi umat bukan sekadar isu bisnis atau perdagangan, melainkan bagian dari panggilan moral dan tanggung jawab iman.
Sejak dahulu bangsa Indonesia memiliki banyak pribahasa yang mengajarkan tentang kerja keras, kebersamaan, dan hikmat dalam membangun kehidupan. Salah satunya adalah:
“Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.”
Pribahasa ini mengandung makna bahwa kehidupan harus dibangun dengan semangat gotong royong dan saling menopang. Nilai tersebut sangat relevan dalam membangun ekonomi umat di era digital saat ini.
Dalam pemahaman teologi Kristen yang benar, manusia dipanggil bukan hanya untuk beribadah secara pribadi, tetapi juga untuk mengelola kehidupan dengan penuh tanggung jawab di hadapan Tuhan.
“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”
— Kejadian 2:15
Artinya, bekerja, membangun, menciptakan, dan mengelola sumber daya dengan benar merupakan bagian dari panggilan iman.
Karena itu, ekonomi bukan sesuatu yang kotor atau bertentangan dengan kerohanian, selama dijalankan dengan kejujuran, keadilan, dan kasih terhadap sesama.
Masyarakat Nusantara juga mengenal pribahasa:
“Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit.”
Maknanya, pembangunan ekonomi umat tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Usaha kecil, UMKM rakyat, koperasi gereja, karya kreatif anak muda, hingga usaha keluarga dapat menjadi kekuatan besar jika dibangun dengan konsisten dan penuh tanggung jawab.
Yesus sendiri tidak pernah mengajarkan umat-Nya untuk hidup malas atau bergantung tanpa usaha. Sebaliknya, Kristus mengajarkan tanggung jawab, kesetiaan dalam perkara kecil, kerja keras, dan kepedulian terhadap orang miskin serta mereka yang tertindas.
“Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar.”
— Lukas 16:10
Rasul Paulus juga mengingatkan pentingnya bekerja dengan sungguh-sungguh dan hidup bertanggung jawab.
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
— Kolose 3:23
Di tengah perkembangan digital, umat Tuhan juga harus memiliki hikmat agar tidak mudah terbawa arus materialisme dan budaya instan.
Pribahasa Indonesia berkata:
“Air tenang menghanyutkan.”
Artinya, sesuatu yang terlihat biasa dapat memiliki kekuatan besar. Demikian pula gereja dan umat Tuhan. Meski sering bekerja dalam kesederhanaan, jika memiliki integritas, hikmat, dan kesetiaan, maka akan mampu membawa dampak besar bagi bangsa.
Namun gereja juga perlu berhati-hati agar tidak terjebak dalam teologi yang keliru — seolah-olah kekayaan adalah ukuran utama berkat Tuhan atau keberhasilan rohani seseorang.
“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang.”
— 1 Timotius 6:10
Teologi Kristen yang sehat tidak mengajarkan kerakusan, tetapi mengajarkan tanggung jawab, kejujuran, dan hidup menjadi berkat bagi sesama.
Karena itu, digitalisasi ekonomi umat seharusnya tidak diarahkan untuk membangun kesombongan atau kerakusan baru, melainkan membangun kemandirian dan kesejahteraan bersama.
Pribahasa Nusantara lainnya mengatakan:
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.”
Artinya, dalam membangun ekonomi digital dan modernisasi, umat tetap harus menghormati nilai budaya, etika, dan kehidupan sosial masyarakat.
Teknologi boleh berkembang, tetapi moral dan kemanusiaan tidak boleh ditinggalkan.
Gereja dipanggil menjadi terang dan garam dunia.
“Kamu adalah garam dunia… Kamu adalah terang dunia.”
— Matius 5:13-14
Artinya gereja harus mulai mendorong lahirnya generasi muda Kristen yang kreatif, inovatif, berintegritas, mampu membangun usaha, menciptakan lapangan kerja, dan menggunakan teknologi untuk menghadirkan nilai Kerajaan Allah di tengah masyarakat.
Sebab teknologi tanpa moral akan melahirkan keserakahan baru.
Ekonomi tanpa kasih akan melahirkan ketimpangan.
Dan iman tanpa perbuatan kasih akan kehilangan kesaksiannya.
“Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”
— Yakobus 2:17
Hari Kebangkitan Nasional seharusnya menjadi momentum refleksi bahwa kebangkitan bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau kemajuan teknologi, tetapi dari sejauh mana rakyat kecil ikut merasakan keadilan dan pengharapan.
Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju secara digital, tetapi bangsa yang mampu menjaga nilai kemanusiaan, moral, dan keadilan sosial di tengah perubahan zaman.
Karena itu gereja harus hadir bukan sebagai penonton sejarah, tetapi sebagai bagian dari solusi bagi bangsa.
Membangun pendidikan, mendampingi UMKM, memberdayakan generasi muda, mendukung ekonomi kreatif, dan memanfaatkan teknologi secara sehat adalah bagian dari kesaksian iman di era modern.
Dan ketika gereja ikut membangun kemandirian ekonomi umat dengan hati yang benar, sesungguhnya gereja sedang ikut menjaga masa depan bangsa.
“Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN.”
— Mazmur 33:12


