Andreas: Rakerda PGLII Kota Bandung Tidak Hanya Bangun Program, Tapi Juga Pererat Persaudaraan Pelayanan
Bandung, 18 Mei 2026 — Pelaksanaan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Kota Bandung Periode 2025–2029 tidak hanya menjadi forum pembahasan program kerja organisasi, tetapi juga menjadi momentum mempererat kebersamaan dan persaudaraan antar gereja serta lembaga Injili di Kota Bandung.
Hal tersebut disampaikan salah satu pimpinan sidang Rakerda, Bapak Andreas, saat diwawancarai tim media usai seluruh rangkaian kegiatan selesai digelar di GKKI COCCC Bandung Textile Center, Kecamatan Andir, Kota Bandung.
Sebagai salah satu pimpinan sidang sekaligus peserta aktif dalam forum Rakerda, Andreas mengaku bersyukur karena seluruh agenda kegiatan dapat berjalan dengan baik, tertib, dan penuh semangat kebersamaan.
Menurutnya, suasana persaudaraan yang terbangun selama Rakerda menjadi kekuatan penting dalam membangun pelayanan yang lebih solid di Kota Bandung.
“Puji Tuhan, seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan baik. Yang paling terasa bukan hanya pembahasan program kerja, tetapi semangat persatuan dan kebersamaan antar gereja,” ujarnya.
Ia menilai bahwa sidang pleno yang berlangsung selama Rakerda tidak hanya membahas persoalan organisasi, tetapi juga merumuskan arah pelayanan gereja agar semakin relevan dengan kebutuhan masyarakat dan tantangan zaman.
Pembahasan program kerja meliputi berbagai bidang pelayanan, mulai dari Pendidikan dan Teologi, PI dan Misi Penginjilan, Politik dan Hukum, Hubungan Antar Lembaga, Pemuda dan Remaja, Pelayanan Masyarakat (Pelmas), hingga bidang Informasi dan Komunikasi (Infokom).
Menurut Andreas, seluruh komisi terlihat serius merumuskan program pelayanan yang mampu menjawab kebutuhan gereja dan masyarakat di masa kini.
“Saya melihat ada semangat baru dalam Rakerda kali ini. Semua peserta ingin pelayanan PGLII Kota Bandung semakin kuat dan berdampak,” katanya kepada tim media.
Namun di tengah padatnya agenda persidangan, suasana Rakerda juga diwarnai momen sederhana yang mempererat keakraban antar peserta.
Di sela-sela waktu istirahat makan siang, Andreas tampak menunjukkan keahlian meracik kopi khas Nusantara yang kemudian dinikmati bersama sejumlah peserta Rakerda.
Dengan suasana santai dan penuh kehangatan, ia memperkenalkan racikan kopi tradisional yang menurutnya dapat dikonsumsi sebagai kopi sehat dengan tetap mempertahankan cita rasa khas kopi Indonesia.
Beberapa peserta terlihat antusias menyaksikan proses peracikan kopi tersebut sambil berbincang ringan setelah mengikuti rangkaian sidang pleno yang cukup serius.
Menurut Andreas, kopi Nusantara bukan hanya bagian dari budaya Indonesia, tetapi juga simbol kebersamaan yang dapat mempererat komunikasi dan persaudaraan.
“Kadang kebersamaan lahir dari hal-hal sederhana. Dari secangkir kopi, komunikasi bisa menjadi lebih hangat dan hubungan persaudaraan menjadi lebih dekat,” ungkapnya.
Momen tersebut pun menjadi warna tersendiri dalam pelaksanaan Rakerda, karena di tengah pembahasan program dan agenda organisasi, para peserta tetap dapat membangun suasana kekeluargaan dan komunikasi yang hangat.
Sebagai pimpinan sidang, Andreas juga mengapresiasi seluruh peserta yang mengikuti jalannya persidangan dengan tertib dan penuh rasa saling menghormati.
Menurutnya, sikap tersebut menjadi modal penting dalam membangun kerja sama pelayanan antar gereja di Kota Bandung.
Ia berharap seluruh hasil keputusan Rakerda tidak berhenti hanya sebagai dokumen organisasi, tetapi benar-benar diwujudkan melalui pelayanan nyata yang memberi dampak bagi masyarakat.
“Harapan kami, hasil Rakerda ini menjadi awal lahirnya pelayanan yang semakin solid, bersatu, dan mampu menjadi berkat bagi Kota Bandung,” pungkasnya.
Di akhir wawancara, Andreas mengajak seluruh pengurus dan gereja anggota PGLII Kota Bandung untuk terus menjaga semangat persaudaraan, memperkuat persekutuan doa, dan membangun pelayanan bersama dengan hati yang tulus.
(Jurnalis: Tim)


