Ketua PW PGLII Jawa Barat: Gereja Tidak Boleh Diam, Harus Menjadi Kekuatan Moral Bagi Kota
Bandung, 18 Mei 2026 — Pasca berakhirnya Rapat Kerja Daerah (Rakerda) Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Kota Bandung Periode 2025–2029, Ketua PW PGLII Provinsi Jawa Barat, Pdt. Benyamin Lumondo, S.Th., menyampaikan pesan tegas mengenai peran gereja di tengah perubahan zaman yang semakin kompleks.
Dalam wawancara bersama tim media usai seluruh rangkaian kegiatan selesai digelar di GKKI COCCC Bandung Textile Center, Kota Bandung, ia menegaskan bahwa gereja tidak boleh kehilangan arah dan hanya sibuk dengan urusan internal organisasi.
Menurutnya, gereja harus mampu tampil sebagai kekuatan moral, menghadirkan pengharapan, serta menjadi jawaban bagi berbagai persoalan sosial yang sedang dihadapi masyarakat.
“Hari ini dunia berubah sangat cepat. Gereja tidak boleh diam. Gereja harus hadir membawa terang, menjaga nilai-nilai kebenaran, dan menjadi suara moral di tengah kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Ia menilai bahwa Rakerda PGLII Kota Bandung kali ini bukan sekadar forum organisasi biasa, melainkan momentum penting untuk memperkuat kembali semangat persatuan gereja dan membangun pelayanan yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.
Menurutnya, tantangan pelayanan saat ini jauh lebih besar dibanding sebelumnya. Persoalan moral, krisis keluarga, kehidupan generasi muda, pengaruh teknologi digital, hingga menurunnya kepedulian sosial menjadi tantangan nyata yang harus dijawab gereja melalui tindakan dan pelayanan yang konkret.
“Gereja tidak boleh hanya aktif di mimbar. Gereja harus turun menjangkau masyarakat, mendengar pergumulan mereka, dan hadir membawa solusi,” ujarnya kepada tim media.
Pdt. Benyamin Lumondo juga mengapresiasi semangat kebersamaan yang terlihat selama pelaksanaan Rakerda berlangsung.
Ia menilai kehadiran berbagai gereja dan lembaga Injili dalam satu forum menjadi bukti bahwa semangat persatuan tubuh Kristus masih terjaga dengan baik di Kota Bandung.
Menurutnya, kesatuan gereja merupakan kekuatan besar untuk membangun pelayanan yang lebih luas dan berdampak.
“Kalau gereja berjalan sendiri-sendiri, dampaknya akan terbatas. Tetapi ketika gereja bersatu, maka pengaruhnya akan jauh lebih besar bagi kota ini,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, ia turut memberikan pesan khusus kepada para pengurus baru PD PGLII Kota Bandung yang telah dilantik dan ditahbiskan.
Ia mengingatkan bahwa jabatan dalam organisasi gereja bukan simbol kehormatan, melainkan tanggung jawab rohani yang harus dijalankan dengan integritas dan hati seorang pelayan.
“Pengurus harus menjaga kesatuan, membangun komunikasi yang sehat, dan menjadi teladan dalam pelayanan maupun kehidupan,” ungkapnya.
Selain itu, ia berharap seluruh program kerja yang telah dirumuskan dalam Rakerda tidak berhenti hanya sebagai hasil sidang organisasi, tetapi benar-benar diwujudkan dalam pelayanan nyata yang menyentuh masyarakat.
Program-program pelayanan yang dibahas dalam Rakerda diarahkan untuk memperkuat pembinaan rohani, pelayanan sosial, penginjilan, kaderisasi generasi muda, serta pengembangan pelayanan berbasis media digital di era modern.
Di akhir wawancara, Pdt. Benyamin Lumondo mengajak seluruh gereja anggota PGLII untuk terus menjaga semangat kebersamaan dan memperkuat persekutuan doa.
Menurutnya, pelayanan yang besar lahir dari hati yang bersatu dan kerinduan bersama untuk melayani Tuhan.
“Kesatuan gereja bukan sekadar slogan. Kesatuan harus terlihat melalui pelayanan yang nyata dan kepedulian terhadap masyarakat,” pungkasnya.
(Jurnalis: Tim)


