Mati-Matian untuk Apa?
Ketika Hidup Tidak Lagi Berpusat pada Dunia yang Sementara
Oleh: Ps. Welly Massie
Istilah “mati-matian” biasanya dipakai untuk menggambarkan perjuangan total tanpa setengah hati.
Orang bisa bekerja mati-matian demi karier.
Mengejar uang mati-matian.
Berlatih mati-matian demi kemenangan.
Bahkan ada yang rela mengorbankan kesehatan, keluarga, dan hidupnya demi sesuatu yang dianggap penting.
Tetapi pertanyaannya sederhana: apa sebenarnya yang sedang kita kejar mati-matian?
Sebab tidak semua perjuangan bernilai kekal.
Banyak orang menghabiskan seluruh hidupnya untuk sesuatu yang akhirnya harus ditinggalkan saat kematian datang.
Jabatan akan berhenti.
Uang akan ditinggalkan.
Popularitas akan dilupakan.
Tubuh yang dibanggakan pun akan kembali menjadi debu.
Ironisnya, manusia sering rela berjuang tanpa tidur demi hal-hal sementara, tetapi menjadi mudah lelah ketika berbicara tentang perkara rohani.
Padahal Alkitab justru memperlihatkan bahwa orang percaya dipanggil hidup dengan kesungguhan yang jauh lebih besar—bukan untuk dunia yang fana, tetapi untuk sesuatu yang kekal.
Di akhir hidupnya, Rasul Paulus menulis kepada Timotius:
“Kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu.”
— 2 Timotius 4:5
Ini luar biasa.
Paulus menulis kata-kata itu bukan saat hidupnya nyaman. Ia sedang berada di ujung hidupnya. Tubuhnya lemah. Kematiannya sudah dekat.
Namun api rohaninya belum padam.
Mengapa?
Karena Paulus memiliki perspektif kekekalan.
Ia tahu bahwa hidup ini bukan tujuan akhir. Dunia bukan rumah yang permanen. Semua penderitaan, air mata, dan perjuangan di bumi hanyalah sementara dibanding kemuliaan yang akan datang.
Itulah sebabnya Paulus berkata:
“Penderitaan ringan yang sekarang ini mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal…”
— 2 Korintus 4:17
Perhatikan kata-kata itu: “kemuliaan kekal.”
Paulus tidak hidup untuk sesuatu yang sementara.
Ia hidup untuk sesuatu yang tidak bisa dihancurkan oleh kematian.
Inilah yang membuatnya mampu bertahan:
- walau ditolak
- walau dipenjara
- walau dianiaya
- walau nyawanya terancam
Ia tetap berjalan. Tetap melayani. Tetap memberitakan Injil.
Karena fokusnya bukan kenyamanan dunia, tetapi panggilan Tuhan.
Hari ini dunia mengajarkan manusia untuk hidup mati-matian demi kesuksesan pribadi.
Tetapi sedikit orang yang rela:
- mati-matian menjaga iman
- mati-matian hidup benar
- mati-matian mempertahankan kekudusan
- mati-matian memberitakan Injil
- dan mati-matian menyelesaikan panggilan Tuhan
Padahal semua yang kita kumpulkan di bumi tidak akan ikut masuk ke kekekalan.
Yang bernilai di hadapan Tuhan bukan seberapa banyak yang kita miliki, tetapi seberapa setia kita menjalani kehendak-Nya.
Karena itu jangan habiskan seluruh energi hidup hanya untuk mengejar apa yang akan hilang.
Berjuanglah untuk sesuatu yang kekal.
Kalau harus bekerja keras, bekerjalah untuk tujuan yang bernilai di hadapan Tuhan. Kalau harus berkorban, berkorbanlah untuk sesuatu yang tidak akan sia-sia di kekekalan.
Sebab penderitaan akan terasa ringan ketika kita tahu untuk siapa kita hidup.
Kesimpulan
Jangan mati-matian mengejar sesuatu yang tidak bisa dibawa melewati kematian.
Tetapi bekerjalah mati-matian untuk:
- iman
- kebenaran
- Injil
- jiwa-jiwa
- dan panggilan Tuhan dalam hidup kita
Karena pada akhirnya, hidup bukan diukur dari seberapa besar dunia mengenal kita, tetapi apakah kita setia menyelesaikan apa yang Tuhan percayakan sampai akhir.
GBU Always, Amin 🙏


