PARTAI KRISTEN: ANTARA SALIB DAN KURSI KEKUASAAN
Ketika Politik Kehilangan Nurani, Masihkah Orang Percaya Berani Menjadi Terang?
Oleh: Tim Redaksi
Indonesia sedang memasuki sebuah zaman yang unik. Di satu sisi demokrasi semakin matang, namun di sisi lain masyarakat semakin sering menyaksikan bagaimana politik terkadang kehilangan ruh pengabdiannya. Kekuasaan menjadi tujuan, bukan sarana. Jabatan menjadi rebutan, bukan panggilan. Rakyat menjadi angka statistik, bukan manusia yang harus dilayani.
Di tengah realitas itulah, pertanyaan tentang kehadiran Partai Kristen kembali mengemuka.
Apakah Partai Kristen hadir hanya untuk mengumpulkan suara umat? Apakah ia sekadar kendaraan politik bagi kelompok tertentu? Ataukah kehadirannya memiliki misi yang jauh lebih besar daripada sekadar memenangkan pemilu?
Sesungguhnya, kehadiran Partai Kristen tidak boleh dipahami hanya dalam konteks politik praktis. Ia harus dilihat sebagai sebuah panggilan moral untuk menghadirkan nilai Kerajaan Allah di tengah dunia yang semakin kehilangan arah.
Sebab politik tanpa moral akan melahirkan keserakahan.

Kekuasaan tanpa integritas akan melahirkan penindasan.
Dan demokrasi tanpa hati nurani akan berubah menjadi transaksi kepentingan.
Filsuf Yunani, Plato, pernah berkata:
“Harga yang harus dibayar oleh orang baik karena tidak mau terlibat dalam politik adalah dipimpin oleh orang-orang yang lebih buruk darinya.”
Kalimat ini terasa begitu relevan hari ini.
Banyak orang Kristen memilih menjauh dari politik karena menganggap politik itu kotor. Namun mereka lupa bahwa ketika orang baik meninggalkan ruang publik, ruang itu akan diisi oleh mereka yang tidak memiliki nilai dan prinsip.
Karena itu, pertanyaan yang benar bukanlah:
“Perlukah orang Kristen berpolitik?”
Tetapi:
“Siapkah orang Kristen membawa nilai Kristus ke dalam politik?”
Alkitab tidak pernah mengajarkan umat Tuhan untuk melarikan diri dari dunia.
Justru Tuhan memanggil umat-Nya menjadi terang di tengah kegelapan.
“Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.” (Matius 5:14)
Terang tidak dipanggil untuk bersembunyi.
Terang dipanggil untuk hadir.
Terang dipanggil untuk memberi arah.
Terang dipanggil untuk mengusir kegelapan.
Demikian pula Partai Kristen.
Jika hadir hanya untuk menjadi simbol agama, maka ia akan kehilangan makna.
Tetapi jika hadir sebagai terang yang memperjuangkan keadilan, kejujuran, dan kesejahteraan rakyat, maka kehadirannya akan menjadi berkat bagi bangsa.
Masalah terbesar politik Indonesia hari ini sesungguhnya bukan kekurangan partai.
Indonesia sudah memiliki banyak partai.
Yang kurang adalah keteladanan.
Yang langka adalah integritas.
Yang mahal adalah kejujuran.
Banyak orang berbicara tentang perubahan, tetapi sedikit yang mau menjadi perubahan.
Banyak yang berkhotbah tentang moralitas, tetapi gagal memberi teladan.
Di sinilah tantangan terbesar Partai Kristen.
Bukan bagaimana menjadi partai terbesar.
Tetapi bagaimana menjadi partai yang paling dapat dipercaya.
Bukan bagaimana menguasai parlemen.
Tetapi bagaimana menjaga nurani parlemen.
Bukan bagaimana merebut kekuasaan.
Tetapi bagaimana menggunakan kekuasaan untuk melayani.
Sebab Yesus sendiri memberikan definisi kepemimpinan yang berbeda dari dunia.
“Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.” (Matius 20:26)
Inilah revolusi terbesar dalam politik.
Dunia mengajarkan pemimpin untuk dilayani.
Kristus mengajarkan pemimpin untuk melayani.
Dunia mengejar jabatan.
Kristus mengejar pengabdian.
Dunia membangun dinasti.
Kristus membangun manusia.
Maka Partai Kristen seharusnya menjadi rumah bagi para pelayan rakyat, bukan rumah bagi para pemburu kekuasaan.
Indonesia hari ini membutuhkan lebih banyak Yusuf yang jujur di istana.
Lebih banyak Daniel yang berani berkata benar di hadapan penguasa.
Lebih banyak Nehemia yang membangun bangsa dengan air mata dan doa.
Lebih banyak Ester yang berani mempertaruhkan kenyamanan demi keselamatan rakyat.
Politik Indonesia membutuhkan figur-figur seperti itu.
Karena bangsa ini tidak sedang mengalami krisis demokrasi.
Bangsa ini sedang mengalami krisis keteladanan.
Alkitab berkata:
“Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah TUHAN.” (Mazmur 33:12)
Ayat ini bukan berbicara tentang menjadikan negara sebagai negara agama.
Melainkan tentang bangsa yang para pemimpinnya takut akan Tuhan, menjunjung kebenaran, dan menjalankan keadilan.
Sebab keadilan adalah fondasi sebuah negara.
“Kebenaran meninggikan derajat bangsa, tetapi dosa adalah noda bangsa.” (Amsal 14:34)
Inilah pesan yang seharusnya dibawa Partai Kristen ke tengah panggung politik Indonesia.
Bukan politik kebencian.
Bukan politik identitas.
Bukan politik balas dendam.
Melainkan politik kasih yang berani berkata benar.
Politik keadilan yang berpihak kepada rakyat.
Politik pelayanan yang menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan golongan.
Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa banyak kursi yang berhasil diraih sebuah partai.
Sejarah akan mengingat apakah partai itu pernah menjadi suara bagi mereka yang tak bersuara.
Apakah ia pernah berdiri membela kebenaran ketika banyak orang memilih diam.
Apakah ia pernah menjadi terang ketika bangsa ini berjalan dalam kegelapan.
Karena sesungguhnya, Partai Kristen bukan dipanggil untuk sekadar menang dalam pemilu.
Tetapi dipanggil untuk memenangkan hati rakyat melalui integritas, pelayanan, dan keteladanan.
Dan ketika politik kembali dipenuhi orang-orang yang takut akan Tuhan, maka harapan bagi Indonesia akan selalu ada.
Sebab bangsa yang besar tidak lahir dari banyaknya partai.
Bangsa yang besar lahir dari banyaknya pemimpin yang memiliki hati untuk melayani.


